AI Search Meledak: ChatGPT Tembus 900 Juta Pengguna Mingguan, GEO Makin Jadi Disiplin Wajib
Lanskap pencarian informasi di internet tengah mengalami perubahan besar. Jika selama dua dekade terakhir Search Engine Optimization (SEO) menjadi strategi utama agar konten muncul di Google, kini pelaku bisnis, media, hingga pemasar digital mulai menghadapi tantangan baru: bagaimana agar konten mereka dikutip oleh mesin pencarian berbasis kecerdasan buatan (AI Search).
Perubahan itu semakin nyata setelah OpenAI mengumumkan bahwa ChatGPT telah mencapai sekitar 900 juta pengguna aktif mingguan pada Februari 2026, lebih dari dua kali lipat dibandingkan setahun sebelumnya. Lonjakan tersebut menunjukkan masyarakat semakin terbiasa memperoleh jawaban langsung dari AI, tanpa harus membuka banyak halaman web. Di saat yang sama, berbagai riset menemukan mekanisme AI dalam memilih sumber informasi tidak selalu mengikuti peringkat Google, sebuah halaman yang tidak berada di posisi atas Google tetap berpeluang menjadi referensi utama dalam jawaban AI.
AI Search Mengubah Cara Orang Menemukan Informasi
Berbeda dengan mesin pencari tradisional yang menampilkan daftar tautan, AI Search bekerja dengan menggabungkan informasi dari berbagai sumber, lalu menyajikannya dalam bentuk jawaban yang sudah diringkas. Perubahan perilaku ini membuat pengguna tidak lagi harus membuka banyak situs untuk memperoleh informasi. ChatGPT kini memproses miliaran prompt setiap hari, sementara platform AI lain seperti Google AI Overviews, Gemini, Perplexity, Claude, hingga Copilot terus mengalami pertumbuhan pengguna yang signifikan.
Halaman yang Tidak Ranking di Google Tetap Bisa Dikutip AI
Salah satu temuan paling menarik datang dari riset Ahrefs terhadap 75.000 brand di ChatGPT, AI Mode, dan AI Overviews. Penelitian tersebut menemukan tautan balik (backlink) (fondasi utama SEO selama ini) ternyata berkorelasi sangat lemah dengan kemunculan di jawaban AI, jauh di bawah faktor seperti sebutan merek (brand mention) di sumber pihak ketiga.
Menurut analisis yang merujuk riset Ahrefs, sekitar 91% jawaban AI mengutip sumber pihak ketiga — bukan domain resmi milik brand itu sendiri. Baca detail metodologinya di riset Ahrefs, “Top Brand Visibility Factors in ChatGPT, AI Mode, and AI Overviews”.
Temuan ini memperlihatkan algoritma AI tidak sekadar menyalin hasil peringkat Google, melainkan melakukan proses retrieval, evaluasi konteks, hingga sintesis informasi berdasarkan berbagai sinyal yang berbeda. Fenomena ini menjadi salah satu alasan mengapa semakin banyak praktisi digital marketing mulai membedakan antara strategi SEO dan strategi untuk AI Search.
GEO Muncul Sebagai Disiplin Baru
Perubahan tersebut melahirkan disiplin baru yang dikenal sebagai Generative Engine Optimization (GEO). Jika SEO berfokus meningkatkan posisi halaman di hasil pencarian tradisional, GEO berupaya meningkatkan kemungkinan sebuah konten dipilih, dipahami, dan dikutip oleh mesin AI seperti ChatGPT, Gemini, Claude, maupun Perplexity.
Istilah dan kerangka GEO pertama kali diformalkan dalam makalah akademik “GEO: Generative Engine Optimization” karya Pranjal Aggarwal dan timnya dari Princeton University, yang dipresentasikan di ACM SIGKDD Conference on Knowledge Discovery and Data Mining (KDD ’24) pada 2024. Para peneliti menjelaskan optimasi terhadap mesin generatif membutuhkan pendekatan berbeda, karena AI tidak sekadar mencocokkan kata kunci, tetapi juga mengevaluasi kualitas informasi, struktur penjelasan, hingga kredibilitas sumber.
SEO Belum Mati, tetapi Tidak Lagi Cukup
Meski demikian, para peneliti mengingatkan GEO bukan pengganti SEO. SEO tetap menjadi fondasi agar konten dapat ditemukan dan diindeks dengan baik. Namun setelah konten tersedia, AI masih melakukan proses retrieval, reranking, dan sintesis sebelum memutuskan sumber mana yang layak dikutip. Riset akademik terbaru mengenai GEO bahkan menyimpulkan visibilitas di AI dipengaruhi banyak tahapan, mulai dari keterjangkauan konten, relevansi topik, hingga bagaimana informasi disusun agar mudah dipahami model AI. Dengan kata lain, halaman yang berada di posisi pertama Google belum tentu jadi sumber utama jawaban AI.
AI Memilih Konten Berdasarkan Relevansi, Bukan Sekadar Ranking
Lily Ray, praktisi SEO dan AI search asal New York yang kini menjabat VP of SEO & AI Search di agensi Amsive, dalam berbagai presentasinya soal GEO menekankan bahwa optimasi AI tidak lagi hanya berfokus pada situs web milik sendiri.
Menurutnya, perubahan terbesar adalah brand kini perlu mengoptimalkan keseluruhan jejak daring mereka. Bukan cuma domain sendiri, tapi juga bagaimana brand tersebut dibicarakan di media, forum, publikasi ilmiah, hingga platform komunitas lain.
Dampaknya bagi Media dan Pelaku Bisnis
Perubahan menuju AI Search juga membawa konsekuensi ekonomi. Sejumlah penelitian menunjukkan ketika jawaban AI mampu menjawab kebutuhan pengguna secara langsung, kecenderungan pengguna untuk mengklik tautan menuju website menjadi lebih rendah dibanding pencarian tradisional, kondisi yang berpotensi mengurangi trafik organik bagi media maupun pemilik website.
Di sisi lain, peluang baru juga muncul. Konten yang sebelumnya sulit bersaing di Google kini tetap punya kesempatan memperoleh eksposur apabila dianggap paling relevan oleh AI. Karena itu, berbagai perusahaan mulai mengembangkan strategi khusus untuk membangun otoritas topik (topical authority), memperkuat entitas merek, meningkatkan kredibilitas sumber, serta menyusun konten dengan struktur yang lebih mudah dipahami model AI — persis yang dilatih di Digital Writer Career Program.
Masa Depan Pencarian Informasi
Perkembangan AI Search diperkirakan masih berada pada tahap awal. Berbagai lembaga riset memperkirakan penggunaan mesin pencari berbasis AI akan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang, sementara pencarian tradisional diproyeksikan mengalami penurunan seiring makin banyak pengguna beralih ke jawaban generatif.
Bagi perusahaan, media, maupun kreator konten, perubahan ini mengisyaratkan strategi digital tidak lagi cukup hanya mengejar peringkat di Google. Di era AI Search, tantangan berikutnya adalah memastikan informasi yang dipublikasikan mampu dipercaya, dipahami, dan layak dikutip oleh mesin kecerdasan buatan.
- Ahrefs — “Top Brand Visibility Factors in ChatGPT, AI Mode, and AI Overviews (75k Brands Studied)”
- Aggarwal, P. et al. — “GEO: Generative Engine Optimization”, Proceedings of the 30th ACM SIGKDD Conference (KDD ’24)
- Lily Ray — “A Reflection on SEO, GEO & AI Search in 2025”, Substack
- Erlin.ai — “Generative Engine Optimization Trends for 2026”
Belajar SEO & GEO sekaligus, bukan salah satu saja.
Modul SEO & GEO di Digital Writer Career Program membahas cara membangun konten yang ranking di Google sekaligus layak dikutip mesin AI — dua keterampilan yang kini sama-sama wajib dikuasai digital writer.