Content Writing

3 Cara Riset Audiens Sebelum Menulis Artikel Blog Agar Sesuai Kebutuhan Pembaca

Penulis melakukan cara riset audiens sebelum menulis artikel blog
Riset audiens membantu saya memahami kebutuhan pembaca sebelum menulis. Sumber foto: Pexels, dari naskah Helma Aulia.

Cara riset audiens sebelum menulis artikel blog bisa dimulai dengan mengenali siapa pembacanya, mencari tahu masalah yang mereka bicarakan, lalu memvalidasi kebutuhannya melalui search intent. Tiga langkah ini bisa dilakukan lewat reader persona, social listening, dan riset pencarian.

Saya biasanya melakukan riset audiens supaya nggak menulis hanya berdasarkan asumsi. Setidaknya, sebelum mulai menulis saya sudah punya gambaran tentang siapa yang akan membaca artikel, masalah apa yang sedang mereka hadapi, dan jawaban seperti apa yang mereka butuhkan.

Nggak harus pakai riset yang rumit, kok. Di artikel ini, saya akan membahas tiga cara sederhana yang bisa kamu praktikkan sebelum mulai menulis artikel blog.

1. Kenali Dulu Siapa yang Akan Membaca Tulisanmu

Sebelum mulai menulis, coba bayangkan satu hal sederhana: sebenarnya kita sedang menulis untuk siapa?

Pertanyaan ini kelihatannya sederhana, tetapi jawabannya bisa memengaruhi hampir seluruh isi artikel.

29%

Dalam riset Content Marketing Institute untuk 2025, 29% pemasar yang menilai strategi kontennya cukup efektif atau kurang menyebut riset audiens yang tidak efektif sebagai salah satu alasan. Temuan ini membahas organisasi B2B.

Nah, salah satu cara yang bisa kita gunakan untuk mengenali pembaca adalah membuat reader persona.

Reader persona sederhananya adalah gambaran tentang orang yang kemungkinan akan membaca tulisan kita. Tapi bukan berarti kita harus mengarang profil lengkap sampai tahu makanan favorit atau kegiatan mereka setiap akhir pekan, ya.

Saya lebih suka membuat reader persona berdasarkan petunjuk yang memang bisa ditemukan. Misalnya dari keyword yang mereka cari, pertanyaan di kolom komentar, percakapan di media sosial atau komunitas, sampai pengalaman ketika berinteraksi langsung dengan audiens.

Misalnya saya ingin menulis artikel tentang cara memulai content writing.

Orang yang mencari topik ini bisa saja mahasiswa usia 19–23 tahun yang ingin mencari pengalaman kerja pertama. Tapi bisa juga pekerja kantoran usia 25–35 tahun yang sedang mencari side hustle.

Topiknya sama, tetapi kebutuhan mereka bisa sangat berbeda.

Mahasiswa mungkin lebih membutuhkan informasi tentang cara membuat portofolio ketika belum punya pengalaman, mencari magang, atau mendapatkan proyek pertama.

Sementara itu, pekerja kantoran mungkin lebih penasaran dengan cara belajar menulis di sela-sela pekerjaan, membagi waktu, atau mulai mengambil proyek tanpa harus langsung resign.

Hal yang sama juga berlaku ketika dua orang sama-sama ingin menjadi content writer dari nol.

Orang pertama mungkin ingin membangun karier baru. Orang kedua mungkin hanya ingin mendapatkan penghasilan tambahan dari menulis.

Keyword-nya bisa sama, tetapi alasan mereka mencarinya belum tentu sama.

Nah, perbedaan seperti inilah yang nantinya bisa memengaruhi angle, contoh, sampai solusi yang kita berikan dalam artikel.

Makanya, saya nggak terlalu suka membuat reader persona yang terlalu rumit. Untuk mulai menulis, biasanya beberapa pertanyaan ini sudah cukup membantu:

  • Siapa kira-kira yang akan membaca artikel ini?
  • Dalam kondisi apa mereka mencari informasi tersebut?
  • Apa yang sudah mereka ketahui?
  • Masalah apa yang sedang mereka hadapi?
  • Apa yang ingin mereka capai?
  • Setelah membaca artikel ini, apa yang seharusnya bisa mereka lakukan?

Reader persona bukan dibuat supaya kita mengetahui semua hal tentang pembaca. Tujuannya lebih sederhana: supaya tulisan kita terasa seperti sedang berbicara kepada orang yang tepat.

2. Cari Tahu Apa yang Sebenarnya Dibicarakan Audiens

Sudah punya gambaran siapa pembacanya? Jangan langsung menulis dulu.

Ada satu hal lagi yang menurut saya menarik untuk dilakukan: dengarkan bagaimana mereka membicarakan masalahnya sendiri.

Caranya bisa melalui social listening.

Sederhananya, social listening berarti memperhatikan percakapan audiens di berbagai platform untuk mencari pola masalah, pertanyaan, atau kebutuhan yang sering muncul.

Kamu bisa mulai dari tempat-tempat yang sebenarnya dekat dengan kita. Misalnya grup Facebook, Telegram, LinkedIn, forum online, sampai kolom komentar dari akun atau website yang membahas niche serupa.

Saya biasanya nggak cuma memperhatikan apa yang ditanyakan, tetapi juga bagaimana mereka menyampaikannya.

Misalnya, sebagai penulis kita mungkin terbiasa menggunakan istilah:

“Cara membangun portofolio content writer.”

Tapi audiens pemula mungkin ngomongnya seperti ini:

“Gimana mau bikin portofolio kalau belum pernah punya klien?”

Kelihatannya cuma beda kalimat, kan?

Padahal dari kalimat kedua kita bisa menangkap sesuatu yang lebih spesifik: masalah mereka bukan sekadar belum punya portofolio, tetapi bingung bagaimana membuat portofolio tanpa pengalaman kerja.

Dari sinilah ide tulisan yang lebih spesifik biasanya muncul.

Social listening juga bisa membantu menemukan content gap, yaitu pertanyaan atau kebutuhan audiens yang belum dijawab dengan cukup baik oleh konten yang sudah tersedia.

Jadi, daripada terus menebak-nebak apa yang dibutuhkan pembaca, saya lebih memilih melihat langsung bagaimana mereka membicarakan masalahnya.

Kadang justru dari satu komentar sederhana kita bisa menemukan angle artikel yang sebelumnya nggak pernah terpikirkan.

3. Cek Lagi Lewat Search Intent

Setelah tahu siapa audiensnya dan apa yang mereka bicarakan, barulah saya masuk ke pencarian.

Tujuannya untuk melihat apa yang sebenarnya ingin ditemukan orang ketika mengetik keyword tertentu di Google.

Di sinilah search intent menjadi penting.

Kalau social listening membantu kita memahami bagaimana audiens berbicara, search intent membantu kita memahami apa yang ingin mereka temukan saat melakukan pencarian.

Makanya, riset keyword menurut saya nggak cukup kalau hanya melihat search volume.

Keyword dengan volume besar belum tentu cocok dengan artikel yang sedang kita buat kalau intent-nya berbeda.

Kabar baiknya, untuk mulai membaca kebutuhan audiens, kita nggak selalu membutuhkan tools SEO berbayar. Ada beberapa fitur gratis yang bisa digunakan.

Google Suggest

Cara paling gampang adalah mengetik keyword di Google dan melihat saran pencarian yang muncul.

Contoh saran pencarian Google untuk topik content writer.
Contoh saran pencarian Google untuk topik content writer. Sumber: tangkapan layar Helma Aulia.

Misalnya kita mulai dari topik content writer, lalu menemukan pencarian seperti:

  • cara menjadi content writer pemula
  • cara menjadi content writer tanpa pengalaman
  • cara menjadi content writer freelance

Sekilas mirip, tetapi coba lihat lebih dekat.

“Cara menjadi content writer pemula” cenderung membutuhkan panduan dasar.

“Cara menjadi content writer tanpa pengalaman” punya masalah yang lebih spesifik: belum punya pengalaman.

Sementara “cara menjadi content writer freelance” lebih mengarah pada jalur karier tertentu.

Dari sini saja kita sudah bisa melihat bahwa satu topik bisa punya beberapa kebutuhan dan angle yang berbeda.

People Also Ask

Saya juga suka melihat bagian People Also Ask untuk mencari pertanyaan yang masih berhubungan dengan topik utama.

Misalnya seperti tangkapan layar berikut:

Contoh pertanyaan terkait pada fitur People Also Ask.
Contoh pertanyaan terkait pada fitur People Also Ask. Sumber: tangkapan layar Helma Aulia.

Pertanyaan seperti ini bisa menjadi inspirasi untuk H2, H3, FAQ, atau bahkan artikel baru.

Tapi bukan berarti semua pertanyaan harus dimasukkan ke artikel, ya. Saya tetap memilih pertanyaan yang benar-benar membantu menjawab search intent utama.

Kalau ingin melihat perubahan minat terhadap suatu topik, kita juga bisa menggunakan Google Trends.

Contoh tampilan kueri terkait pada Google Trends; angka ini menggambarkan pengamatan dalam screenshot penulis.
Contoh tampilan kueri terkait pada Google Trends; angka ini menggambarkan pengamatan dalam screenshot penulis. Sumber: tangkapan layar Helma Aulia.

Misalnya saya ingin membandingkan topik content writing, copywriting, dan SEO writing.

Dari sana saya bisa melihat bagaimana minat pencarian terhadap topik tersebut berubah dari waktu ke waktu.

Tapi saya nggak akan langsung menyimpulkan bahwa topik dengan tren rendah berarti nggak layak ditulis.

Data Google Trends lebih cocok digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk menentukan prioritas, timing, atau angle konten. Jadi, tetap perlu dikombinasikan dengan temuan lain.

Biar Lebih Gampang, Coba Buat Catatan Riset Sederhana

Setelah melakukan semua proses tadi, apakah kita harus membuat dokumen riset audiens yang panjang?

Menurut saya, nggak perlu.

Kalau tujuannya untuk menulis artikel blog, catatan sederhana seperti ini saja sudah cukup:

Topik: Cara menjadi content writer

Target pembaca: Pemula yang belum punya pengalaman

Masalah: Bingung mulai dari mana dan belum punya portofolio

Bahasa audiens: “Gimana jadi content writer kalau belum pernah punya klien?”

Search intent: Mencari panduan langkah demi langkah

Angle: Cara menjadi content writer dari nol tanpa pengalaman

Tujuan: Setelah membaca, pembaca tahu apa yang perlu dipelajari dan mulai membuat

portofolio.

Kelihatannya sederhana, tetapi catatan ini bisa menjadi pegangan ketika mulai membuat outline.

Kalau di tengah proses menulis saya mulai keluar topik, saya bisa kembali melihat catatan tersebut dan bertanya: bagian ini benar-benar dibutuhkan pembaca atau nggak?

Workshop mini · dari riset ke outline

Riset Audiens, Lalu Susun Rencana Artikelmu

Ikuti tiga langkah berikut. Kamu akan mendapat brief, kerangka artikel, dan daftar riset yang masih perlu dilengkapi.

1. Tentukan siapa pembacanya

Persempit topik menjadi satu kelompok pembaca dan satu masalah.

Berapa Lama Riset Audiens Sebelum Mulai Menulis?

Ini juga pertanyaan yang sering bikin penulis pemula terjebak.

Kadang kita merasa harus menemukan semua data dulu sebelum berani membuka draft. Akhirnya, waktunya habis untuk riset dan artikelnya malah nggak mulai-mulai.

Padahal, nggak semua artikel membutuhkan riset dengan kedalaman yang sama.

Untuk content writer pemula, saya lebih menyarankan pola sederhana:

Riset seperlunya → buat outline → mulai menulis → menemukan gap → kembali riset kalau diperlukan.

Saya sendiri melihat riset dan menulis sebagai proses yang bisa berjalan bolak-balik.

Kadang setelah mulai menulis, baru kelihatan bagian mana yang ternyata masih kurang data atau membutuhkan sumber tambahan. Kalau itu terjadi, ya tinggal kembali riset.

Jadi, saya nggak harus mengetahui semuanya tentang audiens sebelum mulai menulis.

Setidaknya, saya sudah bisa menjawab tiga pertanyaan ini:

Saya sedang menulis untuk siapa?

Masalah apa yang ingin mereka selesaikan?

Apa yang bisa tulisan saya bantu?

Kalau tiga pertanyaan itu sudah bisa dijawab, menurut saya kita sudah punya bekal yang cukup untuk mulai menulis.

Kesimpulan

Riset audiens sebelum menulis artikel sebenarnya nggak harus serumit yang dibayangkan. Kamu bisa mulai dengan mengenali siapa pembacanya, mendengarkan bagaimana mereka membicarakan masalahnya, lalu melihat apa yang mereka cari melalui search intent.

Saya sendiri lebih suka melihat riset audiens sebagai cara untuk mengurangi tebakan saat menulis.

Daripada menebak-nebak pembaca butuh apa, saya punya petunjuk tentang masalah mereka, bahasa yang mereka gunakan, sampai jawaban yang kemungkinan sedang dicari.

Karena pada akhirnya, artikel yang bagus bukan sekadar artikel yang panjang atau penuh informasi.

Artikel yang bagus adalah artikel yang terasa seperti dibuat untuk orang yang memang sedang membutuhkan jawabannya.
Digital Writer Career Program

Belajar Riset, Menulis, dan Menyusun Artikel Bersama Mentor

Digital Writer Career Program membantu kamu mempraktikkan riset audiens, menyusun outline, dan membangun portofolio tulisan dengan arahan mentor.

Lihat Paket & Harga
Foto Helma Aulia

Ditulis oleh

Helma Aulia
SEO Content Writer

Helma Aulia adalah SEO content writer dengan pengalaman tiga tahun di dunia digital writing. Tulisannya dimuat di berbagai platform artikel online, dan ia aktif menulis di blog pribadi.

Grow with Ruang Penulis ✍️

Dapatkan insight seputar dunia menulis, Content Writing, Copywriting, SEO/GEO, peluang karier, riset terbaru, dan update program Ruang Penulis langsung di inbox kamu.

Tenang, nggak ada spam. Kamu bisa berhenti berlangganan kapan saja

Scroll to Top