5 Contoh Copywriting WhatsApp Broadcast yang Gak Bikin Risih | Ruang Penulis
Copywriting

5 Contoh Copywriting WhatsApp Broadcast yang Gak Bikin Calon Pembeli Risih

Pemilik online shop tersenyum membaca balasan Ready Kak, Mau, dan Checkout dari calon pembeli setelah mengirim contoh copywriting whatsapp broadcast yang tidak terasa seperti spam
Broadcast yang terasa seperti ajakan ngobrol, bukan iklan searah, lebih mungkin dibalas dengan “Ready Kak?” daripada di-mute.

Kalau saya diminta membuat copywriting WhatsApp broadcast yang tidak bikin calon pembeli risih, saya biasanya mulai dari satu pertanyaan sederhana: “Kalau saya yang menerima pesan ini, apakah saya merasa sedang diajak ngobrol atau sedang diserbu iklan?”

Buat saya, pertanyaan itu penting karena WhatsApp adalah kanal yang sangat personal. Orang membuka chat untuk mengobrol dengan keluarga, rekan kerja, atau teman dekat, bukan untuk melihat deretan iklan berjejer seperti di linimasa media sosial. Begitu sebuah broadcast terasa seperti “disodorkan” bukan “diajak bicara”, refleks pertama kebanyakan orang adalah menutup chat, mengabaikannya, atau bahkan memblokir nomor bisnis tersebut.

Kabar baiknya, informasi promosinya tetap bisa menjual. Yang berubah hanyalah cara menyampaikannya, memberi konteks dan ruang bagi penerima untuk merespons, bukan sekadar menembakkan pesan yang sama ke ribuan nomor sekaligus.

Karena itu, artikel ini akan membahas kenapa WhatsApp broadcast sering terasa mengganggu, cara menulis copywriting WhatsApp broadcast yang tetap menjual tanpa terasa memaksa, sampai lima contoh copywriting WhatsApp broadcast yang bisa langsung Anda adaptasi untuk bisnis sendiri.

Kenapa WhatsApp Broadcast Bisa Terasa Mengganggu?

Saya sering melihat satu kesalahan dalam membuat pesan promosi: bisnis terlalu fokus pada apa yang ingin mereka sampaikan, tetapi lupa memikirkan apa yang sedang dibutuhkan penerima.

Misalnya, bisnis ingin menjual produk baru. Yang kemudian ditulis biasanya semacam:

Broadcast yang Sering Diabaikan “Produk terbaru kami sudah launching! Yuk order sekarang!”

Padahal, calon pembeli mungkin belum tahu produk itu untuk siapa, masalah apa yang diselesaikan, kenapa mereka perlu memperhatikannya, dan apa hubungannya dengan kebutuhan mereka saat ini. Di sinilah copywriting berperan. Menurut saya, tugas copy bukan sekadar membuat produk terdengar menarik, melainkan menjembatani apa yang ingin dijual bisnis dengan apa yang sedang dipikirkan calon pembeli.

Dan khusus untuk WhatsApp, konteks ini menjadi semakin penting karena kanal ini diperlakukan berbeda oleh penggunanya dibanding kanal lain.

41%

Riset Sinch pada 2025 terhadap lebih dari 2.800 konsumen global menemukan bahwa pesan promosi yang terlalu sering dan berlebihan menjadi keluhan utama, diikuti pesan yang tidak diminta dan pesan yang dirasa tidak relevan. Ketiganya menunjukkan satu masalah yang sama: terlalu banyak “bising”, terlalu sedikit relevansi. (Sumber: Sinch, New Research on the State of Customer Communication)

Jadi, menurut saya, WhatsApp broadcast sebaiknya tidak diperlakukan sebagai komunikasi satu arah. Kita mengirim pesan bukan hanya untuk mengatakan “Ini produk kami, beli sekarang,” tetapi juga membuka kemungkinan “Ini mungkin relevan buat Anda, kalau tertarik mari ngobrol.”

AspekBroadcast Gaya Lama (Satu Arah)Broadcast Berbasis Psikologi (Dua Arah)
Kalimat pembuka“PROMO!! Produk baru sudah ready, order sekarang!”“Kulit terasa lebih kering belakangan ini?”
Fokus isiFitur, harga, dan diskon di baris pertama.Masalah atau konteks pelanggan lebih dulu.
PersonalisasiSatu pesan sama untuk seluruh kontak.Disesuaikan dengan riwayat interaksi penerima.
Penutup pesan“Klik link berikut untuk order.”“Mau aku kirim katalognya?”

Cara Membuat Copywriting WhatsApp Broadcast yang Menarik

Saya biasanya menggunakan beberapa prinsip berikut ketika menulis copy untuk komunikasi yang sifatnya langsung seperti WhatsApp.

  1. 1
    Mulai dari masalah, bukan produkIni salah satu prinsip copywriting yang menurut saya paling mudah diterapkan. Daripada “Kami baru saja meluncurkan serum terbaru,” coba “Kulit terasa lebih kering belakangan ini?” Kita tidak langsung membicarakan produk, tapi mulai dari sesuatu yang kemungkinan sudah ada di kepala audiens. Ketika seseorang merasa “ini masalah saya”, mereka punya alasan untuk melanjutkan membaca. Prinsip ini sebenarnya senada dengan yang pernah saya bahas lebih detail di cara menulis copywriting untuk UMKM dengan budget iklan minim: fokus pada masalah pelanggan jauh lebih murah dan efektif daripada mengejar jangkauan sebanyak-banyaknya.
  2. 2
    Berikan alasan kenapa mereka menerima pesan tersebutIni sering dilupakan. Kalau tiba-tiba seseorang menerima pesan promosi dari bisnis yang pernah mereka hubungi beberapa bulan lalu, mereka mungkin bertanya “kenapa saya dikirimi ini?” Maka, konteks sederhana bisa sangat membantu, misalnya “Kak, kemarin sempat tanya soal tote bag kami, kan? Kebetulan sekarang ada varian baru…” Kalimat tersebut sederhana, tetapi memberikan alasan kenapa pesan itu dikirim, dan itulah yang membuat pesan terasa lebih manusiawi.
  3. 3
    Fokus pada manfaat, bukan sekadar fiturMenulis “Tas ini berukuran 35 x 30 cm dan menggunakan bahan kanvas” itu benar, tetapi belum tentu menarik. Bandingkan dengan “Kalau Anda butuh tote bag yang cukup untuk laptop, charger, dan barang kerja harian, model ini bisa jadi pilihan.” Baru setelah itu, detail ukuran dan bahan bisa disampaikan. Fitur menjelaskan produk, manfaat menjelaskan alasan orang membutuhkannya.
  4. 4
    Jangan membuat satu pesan untuk semua orangIni salah satu penyebab utama broadcast terasa seperti spam. Pelanggan baru tentu berbeda dengan pelanggan yang sudah pernah membeli, pelanggan yang pernah bertanya, pelanggan yang meninggalkan keranjang, atau pelanggan lama yang sudah beberapa bulan tidak bertransaksi. Bahkan personalisasi sederhana berdasarkan konteks interaksi sebelumnya bisa membuat pesan terasa jauh lebih relevan.
  5. 5
    Berikan ruang untuk membalasJangan selalu mengakhiri pesan dengan “Klik link berikut untuk membeli.” Sesekali coba “Mau aku kirim katalognya?” atau “Kalau masih bingung pilih yang mana, boleh chat aku ya.” CTA seperti ini membuka percakapan, bukan menutupnya.
53%

Dalam riset belanja musim liburan Sinch, lebih dari separuh konsumen mengaku frustrasi ketika tidak bisa membalas pesan bisnis di ponsel mereka, sementara mayoritas justru terbuka untuk menggunakan chat guna menanyakan status pesanan atau retur. Ini alasan kenapa CTA yang membuka percakapan biasanya lebih efektif dibanding CTA yang hanya menyuruh klik. (Sumber: Sinch, Shoppers Prefer Making Purchases on Mobile)

5 Contoh Copywriting WhatsApp Broadcast yang Gak Bikin Risih

Nah, sekarang saya masuk ke contoh yang bisa langsung Anda adaptasi. Gaya penulisan hook semacam ini sebenarnya mirip dengan pendekatan yang saya bahas di contoh copywriting caption olshop, bedanya di WhatsApp Anda punya ruang lebih besar untuk membangun percakapan dua arah, bukan sekadar caption yang dibaca sekali lalu discroll lewat.

1. Broadcast untuk Mengenalkan Produk Baru

Misalnya Anda baru meluncurkan produk baru. Saya tidak akan langsung menulis “NEW PRODUCT! Produk terbaru kami sudah tersedia. Yuk order sekarang!” Saya lebih memilih memberikan konteks terlebih dahulu.

Versi Lama (Sering Di-skip)

“NEW PRODUCT! Produk terbaru kami sudah tersedia. Yuk order sekarang!”

Versi Konteks → Manfaat → CTA

“Halo Kak, ada yang baru nih 😊
Buat Kakak yang kemarin sempat cari [jenis produk], sekarang kami punya varian baru yang mungkin cocok. Ukurannya lebih [manfaat utama] dan tersedia dalam [pilihan/varian]. Kalau mau lihat fotonya, balas “NEW” ya, nanti aku kirim katalognya.”

Pesan versi kedua tidak memaksa penerima langsung mengambil keputusan. Saya hanya memberikan informasi dan membuka kesempatan untuk melanjutkan percakapan.

2. Broadcast Promo untuk Pelanggan Lama

Untuk pelanggan lama, saya tidak perlu menjelaskan bisnis dari awal. Saya bisa menggunakan konteks pembelian mereka sebelumnya.

Template Pesan

“Halo Kak 😊
Masih suka pakai [produk yang pernah dibeli] yang kemarin? Kebetulan minggu ini ada promo untuk beberapa produk favorit pelanggan. Ada diskon sampai 20% untuk [nama produk]. Kalau Kakak mau, aku bisa kirim beberapa pilihan yang sedang promo.”

Pesan seperti ini terasa lebih natural karena ada hubungan dengan pengalaman sebelumnya. Tetapi personalisasi tidak harus selalu menggunakan nama depan; yang jauh lebih penting adalah apakah isi pesannya memang relevan dengan orang tersebut.

3. Broadcast untuk Calon Pembeli yang Belum Checkout

Ini situasi yang cukup tricky. Calon pembeli sudah bertanya, sudah menunjukkan ketertarikan, tetapi belum membeli. Kesalahan yang sering terjadi adalah langsung mengejar dengan nada mendesak.

Versi Terlalu Mengejar

“Kak, jadi order produknya? Promonya tinggal hari ini!”

Versi Reminder → Bantuan → CTA

“Hai Kak, mau follow up sedikit 😊
Kemarin Kakak sempat tanya tentang [nama produk]. Kalau masih ada yang ingin ditanyakan, boleh banget chat aku ya. Kalau Kakak masih bingung pilih [produk A] atau [produk B], aku juga bisa bantu rekomendasikan sesuai kebutuhan Kakak.”

Di sini saya tidak berasumsi bahwa orang tersebut belum membeli karena tidak tertarik. Bisa saja mereka masih membandingkan produk, masih mempertimbangkan harga, atau belum yakin dengan pilihan. Jadi copy-nya saya arahkan untuk mengurangi keraguan, bukan sekadar mendorong transaksi.

4. Broadcast yang Memberikan Edukasi Sebelum Promosi

Tidak semua WhatsApp broadcast harus dimulai dengan promo. Kalau produk membutuhkan edukasi, saya justru akan memberikan informasi terlebih dahulu, misalnya untuk produk perawatan rambut.

Template Pesan

“Rambut gampang lepek padahal baru keramas? Salah satu penyebabnya bisa jadi produk yang digunakan terlalu berat untuk jenis rambut Anda. Kalau rambut cenderung tipis dan mudah lepek, coba pilih produk dengan tekstur yang lebih ringan. Kebetulan kami punya [nama produk] yang diformulasikan untuk [manfaat]. Mau lihat cara pakainya? Balas “MAU”, nanti aku kirim panduannya 😊”

Produk memang tetap muncul, tetapi bukan menjadi fokus utama dari kalimat pertama. Saya mulai dari masalah yang mungkin sedang dialami audiens, memberikan sedikit informasi, lalu memperkenalkan produk sebagai salah satu solusi.

5. Broadcast Promo dengan Batas Waktu

Urgency tetap bisa digunakan, saya hanya tidak menyarankan membuat urgency palsu. Kalau memang promo berakhir malam ini, katakan saja apa adanya.

Template Pesan

“Sedikit reminder buat Kakak yang kemarin sempat mau coba [nama produk] 😊
Promo [nama promo] berakhir malam ini pukul 23.59. Diskonnya [jumlah diskon] + [benefit tambahan]. Kalau memang sedang membutuhkannya, masih bisa order sampai malam ini ya. Mau aku kirim link produknya?”

Perbedaannya ada pada cara menyampaikan urgency. Kita tidak perlu membuat penerima merasa panik; cukup berikan informasi yang memang mereka perlukan untuk mengambil keputusan.

Formula Sederhana untuk Template Pesan WhatsApp Bisnis

Kalau saya sedang blank dan tidak tahu harus mulai menulis dari mana, saya biasanya menggunakan formula:

Hook → Konteks → Manfaat → Penawaran → CTA Formula dasar yang umum dipakai setiap kali menulis template pesan WhatsApp bisnis dari nol

Contohnya begini:

  • ✓Hook: Lagi cari hadiah untuk teman kantor?
  • ✓Konteks: Minggu depan ada acara tukar kado?
  • ✓Manfaat: Kami punya beberapa pilihan hadiah mulai dari Rp50 ribuan yang praktis dan cocok untuk berbagai karakter.
  • ✓Penawaran: Minggu ini ada beberapa produk yang sedang promo.
  • ✓CTA: Mau aku kirim rekomendasinya?

Namun, formula ini tidak harus digunakan mentah-mentah. Kadang saya hanya membutuhkan Masalah → Solusi → CTA, atau Konteks → Penawaran → CTA. Yang penting, saya tahu kenapa pesan tersebut dikirim kepada orang itu, bukan sekadar mengisi template.

Kata-Kata Promosi WhatsApp yang Bisa Digunakan

Saya juga tidak terlalu menyarankan mencari “kata sakti” yang katanya pasti membuat orang membeli. Tidak ada satu kata yang otomatis membuat copy menjadi efektif; yang lebih penting adalah konteksnya. Tetapi kalau Anda membutuhkan inspirasi, berikut beberapa pilihan.

Untuk membuka percakapan

  • ✓“Ada yang baru nih…”
  • ✓“Mungkin ini yang sedang Anda cari.”
  • ✓“Kemarin sempat cari [produk]?”
  • ✓“Masih mencari [solusi]?”

Untuk menawarkan bantuan

  • ✓“Mau saya bantu pilih?”
  • ✓“Kalau masih bingung, boleh tanya dulu.”
  • ✓“Mau saya kirim detailnya?”
  • ✓“Boleh saya rekomendasikan beberapa pilihan?”

Untuk menyampaikan promo

  • ✓“Khusus minggu ini…”
  • ✓“Sedang ada penawaran…”
  • ✓“Ada harga spesial untuk…”
  • ✓“Khusus pelanggan yang pernah…”

Untuk urgency

  • ✓“Promo berakhir malam ini.”
  • ✓“Pemesanan dibuka sampai…”
  • ✓“Periode promo berlangsung sampai…”
  • ✓“Harga ini berlaku sampai…”

Saya akan memilih kata berdasarkan karakter brand dan hubungan dengan audiens, bukan sekadar memilih kata yang terdengar paling menjual.

Kesalahan yang Sebaiknya Dihindari Saat Broadcast WhatsApp

  1. 1
    Membuka pesan dengan “PROMO!!!”Tidak selalu salah, tetapi kalau setiap pesan dimulai dengan promo, lama-lama audiens akan belajar mengabaikannya. Coba variasikan opening berdasarkan kebutuhan mereka.
  2. 2
    Terlalu sering mengirim broadcastIni bukan hanya soal copywriting. Copy sebagus apa pun bisa terasa mengganggu kalau dikirim terlalu sering, sesuai temuan Sinch yang saya sebutkan di awal artikel ini. Sebelum memperbaiki copy, cek dulu: apakah pesan ini memang perlu dikirim sekarang?
  3. 3
    Mengirim pesan yang sama kepada semua orangKalau memungkinkan, buat segmentasi sederhana: pelanggan baru, pelanggan lama, orang yang pernah bertanya, atau orang yang pernah membeli produk tertentu. Tidak perlu langsung membuat segmentasi yang rumit; sedikit konteks saja sudah bisa membuat pesan jauh lebih relevan.
  4. 4
    Membuat pesan terlalu panjangWhatsApp memang memungkinkan kita menjelaskan banyak hal, tetapi bukan berarti semuanya harus masuk ke satu broadcast. Kalau orang sudah tertarik, biarkan percakapan berlanjut. Broadcast bertugas membuka pintu percakapan, bukan selalu menyelesaikan seluruh proses penjualan dalam satu pesan.
  5. 5
    Terlalu memaksa dengan CTA“BELI SEKARANG!”, “JANGAN LEWATKAN!”, atau “WAJIB PUNYA!” boleh saja digunakan jika sesuai karakter brand, tapi jangan sampai seluruh komunikasi Anda hanya berisi perintah. Sesekali berikan pilihan seperti “Mau lihat dulu?” atau “Kalau tertarik, boleh chat saya,” karena tujuan akhirnya bukan hanya membuat orang klik, melainkan membangun hubungan yang membuat mereka nyaman berkomunikasi dengan brand.

Kesimpulan

Membuat pesan broadcast yang mendatangkan konversi bukanlah soal menunggu datangnya inspirasi, melainkan hasil dari memahami psikologi dan berempati pada masalah audiens. Setiap kali Anda hendak menekan tombol kirim, bertanyalah pada diri sendiri:

“Kalau saya yang menerima pesan ini, apakah saya akan merasa dihargai sebagai manusia?”

Kalau jawabannya ya, kemungkinan besar broadcast tersebut akan dibalas, bukan diabaikan atau diblokir.

Digital Writer Career Program

Mau Berhenti Meraba-Raba dan Serius Menguasai Copywriting Berkonversi Tinggi?

Kalau kamu ingin bedah anatomi psikologi audiens lebih tajam, tingkatkan kariermu secara profesional, dan ciptakan karya berbayar tinggimu minggu ini, gabung bersama mentor praktisi di Digital Writer Career Program Ruang Penulis.

Amankan Kursimu Sekarang →
Foto Riza FM

Ditulis oleh

Riza FM
SEO Content Writer Freelance

Riza FM adalah ASN yang suka menulis. Menulis untuk healing karena pernah burnout, anxious, overthinking, dan PTSD.

Scroll to Top